Senin, 26 Januari 2009

ISTIGHFAR

ISTIGHFÂR

Oleh: Muhsin Hariyanto

Tentanggaku bernama "Sanip", Ia pernah sekali beribadah haji. Sehari-hari dia hanyalah seorang pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. "Orang Betawi asli". Meskipun ibadahnya (di masjid) tak sesering para kiai di pesantren-pesantren, saya bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa shalatnya hanya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfâr (mohon ampun), dia bilang bahwa ia tak ingin minta yang aneh-aneh. "Dia malu kepada Allah", karena sudah terlalu banyak diberi, sementara (ia) belum sempat banyak memberi" untuk dan karena Allah. Dan oleh karenanya "iia merasa perlu banyak ber istighfâr." (Mohammad Sobary, "Saleh dan Malu", dalam Tempo, 16 Maret 1991)

 

Banyak orang yang ketika berdoa, dia selalu meminta apa pun kepada Allah, 'apa saja' yang dia inginkan, dan tak bosan-bosan ia meminta apa pun yang dianggapnya bisa membuat dirinya senang dalam hidupnya, padahal sudah terlalu banyak Allah memberi kepadanya.

Seringkali orang tidak sadar bahwa dirinya telah lupa untuk bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh kepadanya, dan ia merasa selalu dalam kekurangan. Dan oleh karena itu ia selalu akan terus "meminta" kepada Allah dalam setiap doanya.

Lain halnya dengan Bang Sanip, yang telah memberi pelajaran bagi kita semua, bahwa yang belum banyak kita lakukan adalah: beristighfâr, memohon ampunan atas segala dosa yang pernah kita lakukan, disertai upaya optimal untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, dan menindaklanjutinya dengan sejumlah amal saleh.

Kini, kewajiban beristighfâr itu sudah seharusnya menjadi kesaadaran yang semakin kuat bagi kita, (bagi) orang-orang yang hadir dalam sebuah sistem dan budaya 'korup', dalam berbagai kemaksiatan-kolektif yang seolah dilegalkan, karena diri kita yang sudah sedemikian akrab dengannya, dengan "dosa-kolektif".

Mungkin kita – dengan lantang – bisa meneriakkan slogan "anti-maksiat" di tempat kita berpijak. Tetapi ternyata kita menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan sisten dan budaya 'korup' yang melingkupi diri kita, di "bumi pertiwi" di mana kita berpijak. Karena – ternyata -- siapa pun yang berupaya untuk bisa menghindarkan diri dari perbuatan dosa, harus berhadapan dengan "hegemoni-mayoritas", mayoritas manusia yang menikmati dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk menikmati perbuatan dosa. Dan sudah banyak bukti, mereka yang lantang berteriak "anti-maksiat" akan terleliminasi secara sistematik. Menjadi orang-orang yang terpinggirkan, seolah tak berdaya.

Berpijak dari realitas itu, di bumi pertiwi ini – kata orang -- istighfâr bisa berfungsi sebagai perangkat untuk menghilangkan, mencuci atau paling tidak mengurangi kotoran batin kita, "dosa-dosa" pribadi dan kolektif yang melekat pada diri kita karena jebakan sistem dan budaya korup. Dan karena itulah – barangkali -- kenapa majlis-majlis zikir di negeri kita "ada" di mana-mana dan dihadiri olah banyak orang. Mungkin saja karena persepsi kolektif kita tentang "istighfâr" -- yang selalu dilafalkan dalam zikir-zikir mereka -- bisa menghapus segala macam dosa secara otomatis.

Apa yang dipersepsikan manusia tentang kegunaan istighfâr selama ini memang tidak selamnya "salah". Tetapi yang telah menjadi 'salah-kaprah' adalah: banyak di antara manusia mengira bahwa dengan hanya sekadar melafalkan istighfâr, astaghfullâhal azhîm berkali-kali, dengan mulut ber'komat-kamit' dan kepala menggeleng, tiba-tiba tanpa konsideran apa pun dosa-dosa yang menumpuk itu hilang-sirna. Seolah-olah Allah – Tuhan kita – sebegitu mudah ditaklukkan dengan ucapan-ucapan lisan yang sangat mudah dilafalkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun, bahkan oleh para pelaku "rutin" dosa-dosa besar. Dan, jangan-jangan para koruptor di seputar kita, yang kadang-kadang tergerak hatinya untuk mengikuti majelis-majelis zikir yang diselenggarakan secara rutin di berbagai tempat di negeri kita, "berasumsi sama seperti itu". Sepekan "korupsi", terhapus dosa mereka oleh "zikir" sesaat.

Padahal, istighfâr bukanlah sekadar ucapan pemanis bibir. Bukan hanya sebuah permohonan ampun dan pengakuan atas laku dosa yang pernah diperbuat, apalagi permainan kata-kata yang tiba-tiba bisa mem"beres"kan semua dosa. Ada seperangkat nilai yang dimiliki oleh istighfâr yang sering kali dilupakan banyak manusia, yakni: kesadaran diri yang disebut ihsân. Esensi istighfâr dengan sikap ihsân terletak pada kesadaran akan kehadiran Allah SWT yang selalu menatap dan mengawasi. Sadar bahwa Allah SWT melihat, mengawasi, dan memonitor diri dalam gerak dan diam kita, lahir maupun batin.

Sikap ihsân dalam istighfâr memiliki dua nilai-sentral: "kejujuran" dan "keikhlasan", yang akan menghadirkan optimasi setiap manusia untuk menyadari artipentingnya meninggalkan perbuatan dosa dan mengerjakan amal saleh. Dan di sinilah makna istighfâr bertautan dengan "taubat", penyesalan yang berujung pada kesadaran untuk kembali ke titik-nol, dan kemudian membuka lembaran baru untuk menjadi yang terbaik.

Seandainya "Bang Sanip" telah memulai. Kita pun seharusnya segera memulainya.

Dalam kaitan dengan arti pentingnya untuk memulai istighfâr, Emha Ainun Najib menyapa diri kita dengan salah satu bait puisinya (sebagai bahan renungan):

Gusti … kamilah pesakitan; di penjara yang kami bangun sendiri; kamilah narapidana yang tak berwajah lagi; kaki dan tangan ini kami ikat sendiri; maka hukumlah dan ampuni kami; dan jangan biarkan terlalu lama menanti (Emha Ainun Najib, "doa pesakitan", dari kumpulan puisi ٍ Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba)

Kini, di saat kita mau mulai menyapa Allah dengan istighfâr kita, bersihkan hati kita dari semua sikap yang bisa menghalangi pertautan diri kita dengan-Nya: "keengganan dan kesombongan", sebagaimana sikap yang ditunjukkan Iblis ketika diminta oleh Allah untuk bersujud-hormat kepada Adam. Isilah diri kita dengan sikap yang bisa melekatkan diri kita kepada-Nya: "keikhlasan" untuk menerima perintah Allah, sebagaimana sikap orang-orang yang beriman ketika dipanggil oleh Allah untuk taat kepada-Nya, dengan satu jawaban: saminâ wa atha'nâ (kami dengar panggilan-Mu – ya Allah -- dan kami taat kepada-Mu)

Di ketika kita harus menghadapi realitas yang kurang bersahabat untuk melahirkan kesalehan di negeri kita tercinta ini, yang kita perlukan dalam menjaga kontinyuitas istighfar kita hanyalah: sikap "istiqâmah" (teguh pendirian), agar diri kita tidak mudah tergoda oleh setan dengan segala macam perangkat tipu-dayanya.

Penulis adalah: Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.

MENYELAMATKAN AL-QURAN YANG TERABAIKAN

MENYELAMATKAN AL-QURAN YANG TERABAIKAN

Pergumulan Iman Muslim Dalam Budaya Dungu

Oleh: Muhsin Hariyanto

Kedudukan al-Quran sebagai pedoman utama bagi umat Islam sudah menjadi kesepakatan. Sehingga menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengangkat al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Sunnah Nabi s.a.w.. Mengimani seluruh isi al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat al-Quran saja hukumnya haram. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal.

Iftitah

Pengakuan terhadap kebenaran al-Quran sebagai “hudan” (petunjuk) bagi umat Islam memang sudah tidak bisa dipungkiri, namun belum tentu setiap muslim bersedia mengimaninya. Padahal ketidakberimanan terhadap kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil. Sehingga Nabi Muhammad s.a.w. pun pernah mengeluhkan adanya orang Islam yang tidak mempedulikan al-Quran, bahkan keluhan Nabi s.a.w. itu langsung difirmankan oleh Allah SWT:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

"Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan." (Q.S. al-Furqân, 25: 30).

Keprihatinan Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi s.a.w. pernah berdoa untuk umatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi s.a.w. menangis?

Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

Amru bin ‘Ash bercerita bahwa Nabi s.aw. pernah membaca Firman Allah tentang pernyataan Nabi Ibrahim a.s.: “Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ibrahim, 14: 36), dan seterusnya. Dan berkata Isa a.s.: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Maidah, 5: 118). Lalu Nabi s.aw. pun mengangkat kedua tangannya dan bersabda: “Ya Allah, umatku umatku” dan beliau menangis. Maka Allah pun berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi s.a.w. dan menanyainya. Maka Malaikat pun memberitahukan pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhaimu dalam umatmu dan Aku tidak akan pernah membuatmu sedih.” (HR Muslim).

Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi s.aw., hingga betapa besar semangat Nabi s.a.w. agar kerabatnya yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib) selalu membantunya dalam dakwah Islam, Nabi s.a.w. pernah berdoa untuknya (Abu Thalib), namun Allah SWT menegurnya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. al-Qashash, 28: 56).

Kuatnya rasa kasih sayang Nabi s.a.w. itu ternyata masih dikalahkan oleh “kekerasan” hati kerabatnya sendiri (Abu Thalib). Demikian masih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang membuatnya sampai mengeluh kepada Allah SWT, lantaran mereka mengabaikan al-Quran. Mereka itu keterlaluan. Betapa tidak! Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad s.a.w. bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud, dalam keadaan wajahnya berdarah, beliau usap darah di wajahnya sambil berdoa untuk umatnya yang durhaka:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

[Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak mengetahui]. (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

Ketidakpedulian terhadap al-Quran, bukanlah kejahatan yang ringan. Mengaduhnya Nabi s.a.w. atas sikap kaumnya yang mengabaikan al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Namun, sikap kaum yang membelakangi al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi s.a.w. tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang mengabaikan al-Quran, dengan firmanNya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya." (QS al-Kahfi, 18: 57)

Ibnu Qayyim pun menyebut ada lima macam komunitas pengabai al-Quran:

  1. tidak bersedia mendengarkan dan mengimani al-Quran
  2. tidak bersedia mengamalkan al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.
  3. tidak bersedia menegakkan dan menggunakan aturannya.
  4. tidak bersedia mengkaji dan memahami maknanya.
  5. tidak bersedia berobat dan mengobati orang lain dengan al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl , 12/575).

Keluar dari Budaya Dungu

Setiap Muslim sadar bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia demi kebahagiaan mereka sendiri di dunia dan akharat. Mereka pun sadar bahwa Allah Maha Kasih Sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk sempurna dengan sikap dan sifat kasih sayang-Nya. Allah selalu "sudi" memberikan hidayah kepada mereka melalui al-Quran, meskipun di antara mereka masih banyak yang enggan untuk menerima hidayah-Nya. Pantaslah seandainya Nabi s.a.w. mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang mengabaikan al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum semacam itu sebagai “terlalu zalim” (asyaddu zhulman), yang dalam bahasa “gaul” bisa disebut: "disayang, namun tak tahu diri". Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap keengganannya untuk peduli terhadap al-Quran. Sikap semacam itu “keterlaluan”, hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup “tegas”:

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Katakanlah (kepada mereka): "Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS al-Hujurât, 49: 16).

Sikap mengabaikan al-Quran bisa dikikis dengan berbagai usaha. Di Desa-desa, masih banyak masjid, mushalla dan langgar yang setiap malamnya digunakan untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat umat Islam ternyata masih tetap tinggi. Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak berjajar kitab al-Qurannya, tekunkah kita membaca al-Quran dan beri’tikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar dengan al-Quran?

Pertanyaan penting untuk kita: “apakah kita sudah termasuk golongan orang-orang yang sudah benar-benar menjadi pendukung, bahkan pelopor dalam mengamalkan al-Quran. Dan seberapa usaha kita untuk memahami dan mengamalkan al-Quran? Masih memadaikah sikap kita terhadap al-Quran selama ini, yang sekadar membolak-balik lembaran al-Quran, tanpa bertanya lebih lanjut: sudahkah kita implementasikan nilai-nilai luhur al-Quran dalam kehidupan nyata kita?”

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan umat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang zalim yang menjadikan al-Quran sebagai “kumpulan firman Allah yang terabaikan”, dan benar-benar menjadi ‘Muta’allim wa ‘Âmil al-Qurân” (Pembelajar dan Pengamal al-Quran). Insyâallâh.

Senin, 29 Desember 2008

MEMAKNAI KEMBALI HIJRAH NABI MUHAMMAD S.A.W.

MEMAKNAI KEMBALI
HIJRAH NABI MUHAMMAD S.A.W.

Peristiwa hirjrah Nabi Muhammad s.a.w. memang sudah berlalu. Tetapi, pelajaran yang bisa kita peroleh dari peristiwa tersebut untuk masa sekarang dan yang akan datang sangat banyak. Di antaranya adalah semangat untuk berpindah, keinginan kuat dan keberanian untuk "berubah" dari ketidakberdayaan menuju keberdayaan dengan semangat pemberdayaan, untuk diri sendiri dan seluruh umat manusia, terutama untuk umat Islam yang kini masih terlena dalam problem kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan dekadensi moral (baca: keterpurukan akhlaq).


Belajar Dari Ayat-ayat Allah

Allah berfirman:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisâ' 4: 100)

“Dan orang-orang yang berhijrah Karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS an-Nahl, 16: 41)
Kedua ayat di atas mengisyaratkan bahwa Allah SWT berjanji terhadap semua orang yag mau berhijrah di jalan Allah, bahwa mereka pasti akan mendapatkan keberuntungan. Apa wujud keberuntungan itua? Wujudnya – menurut janji Allah – adalah: "Sesuatu yang lebih baik dari apa pernah diperoleh", di dunia dan akhirat.
Fenomena Hijrah Nabi s.a.w.
Suatu malam sekitar tahun 622 Masehi. Sekelompok pemuda mengepung sebuah rumah. Golok terhunus berada di genggaman masing-masing. Tekad mereka bulat. Mereka akan menghabisi lelaki berusia lebih setengah abad itu. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kompromi. Menurut mereka – para pengepung itu -- "dosa" lelaki itu sudah sangat jelas, yakni "membongkar kemapanan kehidupan setempat".
Lelaki itu menggelindingkan perubahan. Ia mengingatkan masyarakatnya untuk tidak mengagungkan semua yang tidak layak diagungkan. Ia mengajak untuk hanya mengagungkan satu-satunya yang layak diagungkan. Lelaki itu menggulirkan transformasi sosial yang mengguncang kemapanan masyarakatnya. Karena itu, ia dipandang pantas untuk mati.
Mereka boleh berencana. Yang di Atas, Yang Maha Perencana, punya rencana lain. Sang lelaki itu berhasil menyelinap dari rumahnya. Dua hari ia berlindung di celah batu sebuah bukit, sebelum kemudian tersaruk mengendarai unta melintasi gurun menuju kehidupan baru. Dalam perjalanan itu, kematian terus membayang-bayanginya. Masyarakatnya, juga alam gurun, selalu siap mengeksekusinya. Tapi, ia sangat yakin bahwa langkahnya "benar". Lelaki itu terus melangkah. Ia telah membayar mahal sikapnya dengan mengorbankan kemapanannya. Ia tidak mau berhenti hingga menginjak tanah baru tempat keyakinannya dapat disemaikan.
Di rumah anak yatim, di tanah baru, unta pembawa lelaki itu berhenti. Di rumah itulah ia kemudian tinggal. Di situlah ia tunjukkan perangainya yang luar biasa. Ia menyantuni para (anak) yatim dan kaum fakir-miskin. Ia ajak para sahabatnya untuk menengok para janda tanpa keluarga. Ia selalu berbicara santun pada sang isteri. Ia maafkan para musuh yang telah menginginkan kematiannya. Ia ingatkan bahwa semua manusia adalah sama. Tidak ada yang berbeda. Satu-satunya perbedaan hanyalah di hadapan Sang Pencipta, yakni perbedaan dalam takwa. Ia ajak manusia menjadi manusia sempurna: manusia yang tak terjajah oleh apa pun lantaran hanya mengagungkan Allah. Dengan itulah lelaki tersebut membawa dunia pada peradaban baru.
Siapa pun yang sungguh mencermati perjalanan lelaki itu akan mengakui betapa dahsyat langkah yang telah ditempuhnya. Yang dilakukannya selalu langkah sederhana. Namun, langkah-langkah sederhana itulah yang mengubah peradaban dunia. Langkah-langkah sederhana itulah yang membalik "hari gelap" menjadi "hari terang-benderang". Momentum pembalikan itu adalah hari-hari saat ia lolos dari kepungan para penjagal untuk menaklukkan keganasan gurun. Momentum itulah 'Hijrah' yang oleh Umar -- sahabat lelaki itu -- dipilih sebagai titik nol penanggalan umat.
Sejak itu, dari tahun ke tahun, kita selalu dilewatkan pada momentum penting Hijriyah. Dari tahun ke tahun kita bertemu dengan Tahun Baru Hijriyah. Persoalannya: apakah kita memanfaatkan momentum itu buat menghijrahkan diri dari gelap kemapanan menuju kehidupan yang lebih terang-benderang? Ataukah kita hanya akan melewatinya sebagaimana melewati hari-hari lainnya.
Gelap tak pernah lelah membayangi kita. Gelap selalu menawarkan 'kenyamanan' untuk mapan di dalamnya. Itulah comfort-zone yang akan terus menjebak kita. Gelap membuat kita lebih suka menyalahkan lingkungan dan menolak berhijrah buat menyikapi keadaan kita sendiri. Kita acapkali merasa diri paling sengsara, sedangkan tubuh kita belum pernah berbekas daun kurma yang menjadi alas tidur, perut kita belum pernah harus diganjal batu untuk menahan lapar seperti lelaki itu. Kita gampang marah saat direndahkan orang lain, padahal kita tak pernah ditimpuki cemooh, batu, maupun kotoran binatang seperti lelaki itu.
Mungkin kita malah bersenang-senang dalam gelimang kekayaan hasil korupsi dalam berbagai bentuk dan derivasinya, sedangkan lelaki dari keluarga terhormat dan sempat kaya raya itu harus menikmati rumput-rumput kering akibat pemboikotan ekonomi selama tiga tahun lantaran keyakinannya. Toh, pada akhirnya sang lelaki itulah yang menjadi sang pemenang. Lelaki itulah yang menjadi manusia yang paling mulia. Lelaki itulah Rasulullah SAW.
Di hari baru, tidakkah kita berniat untuk mengisi comfort-zone kemapanan sendiri buat menjalani hari-hari yang lebih menantang seperti telah dilakoni Sang Nabi. Tidakkah kita berani berkata dengan doa yang kita panjatkan ke hadirat-Nya: "Hijrahkan kami ya Allah, sebagaimana Engkau telah menghijrahkan manusia terkasih-Mu itu agar kami meraih kehidupan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang terang-benderang."
Kini umat manusia memerlukan sejumlah pioneer dan pahlawan yang memiliki kemauan kuat dan keberanian untuk berhijrah diri dan menghijrahkan umat manusia dari keterpurukan menuju ketercerahan dalam wujud apa pun, Ketercerahan intelektual, ketercerahan spiritual dan tentu saja ketercerahan peradaban untuk menjadi modal dalam perjalanan hidup umat manusia menuju 'shirâthal mustaqím', jalan lempang yang hanya dapat dilalui oleh orang yang telah menghijrahkan dan terhijrahkan dirinya ke dalam petunjuk Sang Pencipta, Allah Rabbul 'Âlamín.
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk bergerak menuju ke arah jalan yang ditunjuki oleh-Nya, dan menjadikan diri menjadi bagian dari al-Muhtadín (sekelompok orang yang benar-benar mendapat hidayah dari-Nya).
Âmín.

Kamis, 25 Desember 2008

AKHLAQ CERMIN AQIDAH

AKHLAQ CERMIN AQIDAH

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang agung” (QS al- Qalam, 68 : 4).

Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak ada seorangpun melainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itu kita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebih mementingkan perhiasan zhâhir (luar) dengan penambahan aksesoris sepertipakaian yang bagus, make up yang mewah dan emas permata, sehingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapula yang berupaya memperbaiki kualitas akhlaq, memperbaiki dengan akhlaq islami.

Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari, namun karena kesadaran agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan pahala dari Allah subhânahu wa ta’âla. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segera mengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.

Islam Mengutamakan Akhlaq

Mungkin banyak di antara kita kurang memperhatikan masalah akhlaq. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlaq kurang diperhatikan. Sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan 'awwâm, seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok kurang ajar sama orang tua.” Atau ucapan : “Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan lain-lain.

Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengoreksi diri dan membenahi akhlaq. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlaq, bahkan islam mementingkan akhlaq. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlaq mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlaq seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlaq seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaqnya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaqnya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlaq yang buruk berarti lemah tauhidnya.

Rasululah s.a.w. Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlaq

Rasulullah -- Muhammad -- Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlaq beliau sebagaimana firmanNya dalam QS Al-Qalam, 68: 4. Bahkan beliau Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah (hanyalah) untuk menyempurnakan akhlaq yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR.Ahmad, lihat ash-Shahíhah oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani, hadis no. 45 dan beliau menshahihkannya).

Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu -- seorang sahabat yang mulia menyatakan -- : “Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain Anas bin Malik memuji beliau (Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam): “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini? Atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Akhlaq merupakan tolok-ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaqnya.” (HR at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhyiallâhu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan oleh Nashiruddin al-Albani dalam ash-Shahíhah No.284 dan 751). Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin 'Amr bin al-‘Ash radhiyallâhu ‘anhumâ disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaqnya.”

Keutamaan Akhlaq

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat Rashulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk surga. Beliau (Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam) menjawab: “Taqwa kepada Allah dan Akhlaq yang Baik.” (Hadis Shahih Riwayat at-Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyâdhush Shâlihin hadis no. 627, tahqíq Rabbah dan Daqqaq).

Tatkala Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam menasihati sahabatnya, beliau (Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam) menggandengkan antara nasihat untuk bertaqwa dengan nasihat untuk bergaul/berakhlaq yang baik kepada manusia sebagaimana hadis dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR at-Tirmidzi, ia berkata: hadis (ini) hasan, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Salim al-Hilali).

Dalam timbangan (mízân) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesuatu yang paling berat dalam mízân (timbangan seorang hamba) adalah akhlaq yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan oleh Nashiruddin al-Albani. Lihat ash-Shahíhah Juz 2, hal 535). Juga sabda beliau : “Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Nashiruddin al-Albani. Lihat ash-Shahíhah Juz 2, hal. 535).

Dari Jabir radhiyallâhu ‘anhu (dia) berkata, bahwa Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat ash-shahíhah Juz 2, hal. 418-419).

Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa akhlaq yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslim dan muslimah mengambil akhlaq yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlaq bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam-putih akhlaq itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlaq. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.

Wallâhu A’lam bish Shawâb.

Senin, 22 Desember 2008

HAKIKAT KEBEBASAN BERAGAMA

HAKIKAT KEBEBASAN BERAGAMA

Salah satu prinsip utama dan fundamental dalam ajaran Islam adalah memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada setiap umat manusia untuk memilih atau menolak suatu agama tertentu, berdasarkan keyakinannya. Seseorang dipersilakan menjadi seorang Muslim yang bersyukur, tunduk dan patuh akan ketentuan Allah SWT atau menjadi seorang yang kufur, menolak dan menentang ajaran-Nya. Hal ini sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam QS al-Insân [76]: 3,
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur, ada pula yang kafir.

Bahkan ketika Rasulullah SAW memiliki keinginan kuat agar setiap orang beriman kepada Allah SWT, menjadi Muslim yang baik, dan bila perlu dengan pemaksaan dan tekanan, maka Allah SWT langsung mengingatkannya, dengan firman-Nya dalam QS Yûnus [10]: 99-100,
"Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya."

Juga firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2]: 256,

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya menguasai kembali kota Makkah (Fath Makkah) setelah berhijrah ke kota Madinah selama kurang lebih sembilan tahun, dan pada saat itu kaum musyrikin Makkah sudah tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya (padahal dahulunya ketika mereka berkuasa, sangat kejam terhadap Rasulullah dan para sahabatnya), beliau tetap memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka untuk tetap menjadi kafir atau menjadi Muslim. Beliau bersabda: "Kalian bebas merdeka di muka bumi ini, tidak ada kedengkian dan hasud di antara kita."

Tetapi apa yang terjadi? Ternyata dengan kebesaran jiwa beliau tersebut yang merupakan refleksi dan manifestasi dari ketinggian ajaran Islam, mereka semuanya secara sadar dan sukarela mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS an-Nashr [110]: 1-3,

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat".

Kebebasan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya ini agar pilihan-pilihan agama dan keyakinan tersebut menghasilkan suatu tanggung jawab yang kuat. Setiap orang didorong untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan murni dan konsekuen, tanpa mencampuradukkan satu agama dengan agama yang lain atau satu keyakinan dengan keyakinan yang lain.

Ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi Muslim, maka ia memiliki kewajiban untuk merealisasikan keislamannya dalam kehidupan kesehariannya, baik ketika berhubungan secara vertikal dengan Allah SWT maupun secara horizontal dengan sesama manusia, bahkan juga dengan alam semesta. Ketika sekelompok kaum Muslimin di zaman Abu Bakar secara sadar dan sengaja tidak mau mengeluarkan zakat, Abu Bakar sebagai khalifah pertama ketika itu, langsung berkata : "Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan kewajiban salat dengan kewajiban zakat ..."

Ketegasan ini sangat diperlukan agar orang-orang tidak mempermainkan pelaksanaan ajaran agama berdasarkan hawa nafsunya sendiri, tanpa bimbingan wahyu Allah. Sebab hakikat keislaman dan keimanan seseorang bukan semata-mata ditentukan oleh pengakuannya saja, akan tetapi oleh keikhlasannya dalam menerima dan mengamalkan ajaran-Nya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS an-Nûr [24]: 51-52,

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan kami mendengar dan kami patuh (sami'nâ wa atha'nâ). Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kebahagaan. Dan barang-siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."

Sami'nâ wa atha'nâ bukanlah berarti menutup pintu ijtihad atau kreativitas karena Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu berpikir menggunakan akal seoptimal mungkin, tetapi dalam kaitan peningkatan keimanan dan penguasaan ilmu serta teknologi untuk kesejahteraan umat manusia, sebagai realisasi dari fungsi kekhalifahannya. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, betapa banyak mujtahid dan pemikir Islam yang menghasilkan karya-karya inovatif dan kreatif yang sangat monumental dalam peradaban umat manusia, yang masih dirasakan relevan sampai saat ini, padahal usianya sudah berabad-abad yang lalu.

Yang dilarang sesungguhnya adalah wilayah-wilayah yang bersifat pasti dan tetap yang setiap Muslim tidak boleh berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, kewajiban shalat lima waktu dengan jumlah 17 rakaat, kewajiban ibadah haji pada waktu dan bulan tertentu bagi yang mampu, Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, kebenaran al-Quran yang bersifat mutlak dan absolut, adalah hal yang pasti dan tetap. Setiap muslim wajib memiliki keyakinan yang sama.

Sehingga apabila ada kelompok, organisasi atau golongan yang mengaku sebagai Muslim, namun secara sadar dan sengaja memiliki keyakinan yang berbeda dalam masalah-masalah pokok dan pasti tersebut, maka sesungguhnya kelompok atau organisasi tersebut adalah sesat dan menyesatkan.

Sebab tidak boleh atas nama kebebasan beragama, seseorang atau kelompok orang dan organisasi, dengan seenaknya berpendapat atau berkeyakinan yang justru bertentangan secara diametral dengan ajaran pokok dari agama Islam yang akan menghancurkan tatanan bangunannya.

Semoga umat Islam Indonesia terhindar dari pemahaman dan pemikiran yang merusak tersebut, sehingga bangunan fundamental Islam akan tetap utuh dan kesatuan umat akan tetap terjaga dan terpelihara.

Wallâhu a'lamu bi ash-shawâb.

Kamis, 18 Desember 2008

KETIKA HATI SEBENING KACA

KETIKA HARI SEBENING KACA

Bila hati bisa kita jernihkan dari tumpukan emosi yang tidak perlu, dia akan kembali sebening kaca dan mampu kedamaian, kemudahan, dan keindahan hidup.

Emosi adalah kunci untuk menemukah diri yang sejati. Ironisnya, kebanyakan masalah yang kita temui dalam hidup disebabkan oleh emosi. Contohnya, pernahkah Anda merasa uring-uringan (atau ‘bete’, kata anak zaman sekarang) yang berkepanjangan? Seringkah Anda merasa tak nyaman karena perasaan Anda campur-aduk tak karuan?

Itu suatu pertanda Anda sulit mengenali, menyadari, dan mengelola setiap perasaan yang tengah An¬da alami. Bagaimana cara Anda menghilangkan perasaan negatif: berusaha memendamnya rapat-rapat, melupakannya, atau melampiaskannya kepada orang lain? Meski emosi telah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari setiap manusia, tak semua orang bisa menerima, mengakrabi, apalagi mengelola emosi mereka sendiri.

Padahal, mengutip pendapat Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence, salah satu tanda kecerdasan emosional adalah mampu memonitor apa yang kita rasakan dari momen ke momen un¬tuk memperoleh wawasan psikologis dan pemahaman terhadap diri sendiri.

Peta Emosi

Perasaan atau emosi (dari bahasa Inggris “emo¬tion”), sebenarnya merupakan energy in motion atau energi yang bergerak. Sifat energi adalah dinamis dan kekal; ia tak dapat dimusnahkan, melainkan hanya dapat diubah menjadi bentuk energi yang lain. Perasaan manusia timbul kala energi di dalam dan di sekitar dirinya bergerak. Energi inilah yang menjadi ‘nyawa’ laku kita, mewarnai pikiran, membentuk mimpi, memperkaya hubungan insani, dan menyedi-akan bahan baku bagi daya cipta manusia. Energi ini sebenarnya adalah bagian dari diri kita, yang biasanya tak kita sadari keberadaannya sampai ia muncul men¬jadi sesuatu yang kita kenal sebagai ‘emosi’.

Mempermudah Hidup

Brian Tracy berkata, bila kita menjadikan kedamaian sebagai tujuan tertinggi serta membuat semua kegiatan, keputusan, dan perilaku berdasarkan tujuan ini, maka kita akan lebih bahagia dan efektif dalam kehidupan dan karier. Dengan menerapkan teknologi ikhlas secara teratur, Anda akan menemukan kedamaian serta kehidupan yang lebih mudah dan menyenangkan secara alamiah.

Rasa damai sebetulnya selalu ada di hati manusia, meski seringkali ia tersamar oleh emosi-emosi lain. Kedamaian merupakan hal yang operasional dan bisa dilatih. Setiap kali kita memusatkan perhatian pada kedamaian hati, secara alamiah ia akan tumbuh, berkembang, serta melepaskan kebuntuan yang kita alami.

Menurut Paul R Scheele, bila kita dapat melepaskan konflik-konflik dalam pikiran, emosi, dan perilaku, kita akan dapat mencapai performa terbaik kita seba¬gai manusia. Anda pun akan menemukan kembali apa yang paling didambakan hati.

Selasa, 16 Desember 2008

MALU KEPADA ALLAH

MALU KEPADA ALLAH

Oleh: Muhsin Hariyanto

Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus menyembah. (A. Sobary, Tempo, 16 Maret 1991)

Malu, atau tepatnya rasa malu, kini teramat mahal. Konon kabarnya sudah tidak banyak dimiliki orang, utamanya rasa malu untuk berbuat maksiat. Seolah-olah orang sudah tidak lagi memiliki rasa 'ewuh-pekewuh', sungkan, tidak merasa enak dilihat orang lain ketika berbuat salah. Apalagi merasa dilihat oleh Allah. Manusia telah banyak kehilangan sikap "murâqabah", sudah tak merasa lagi diawasi oleh Allah, Tuhannya.

Di mana-mana orang lebih banyak menuntut hak daripada menjalankan kewajiban. Dan ironisnya sudah menjadi salah kaprah, sebenarnya 'salah', tapi dianggap 'benar', karena didukung oleh banyak orang. Terlalu banyak orang yang menyatakan bahwa menuntut hak harus diutamakan, sementara yang mengutamakan untuk menjalankan kewajiban terlalu sedikit. Ketika diminta untuk bekerja, mereka katakan "nanti dulu", sementara untuk urusan 'gaji', upah atau kompensasi, mereka teriakkan: "mana hak kami?".

Malu rasanya melihat fenomena ini. Tapi, apa hendak dikata: "semuanya sudah terjadi", dan nampaknya akan terus terjadi dan menjadi pemandangan biasa. Dan karena sudah biasa, bisa jadi dianggap benar. Orang sudah terbiasa untuk membenarkan yang "biasa", dan masih sulit untuk membiasakan yang "benar". Di samping karena minus kemauan, juga tidak ada 'nyali' (keberanian).

Malu – menurut pernyataan Nabi s.a.w. -- adalah salah satu ciri keistimewaan akhlak Islam. Katanya: setiap agama memiliki keistimewaan akhlak dan, keistimewaan akhlak Islam adalah malu.'' Bahkan, kata beliau, ''malu adalah sebagian daripada iman.'' Maksudnya, tidak sempurna iman seseorang kalau dia tidak memiliki sifat malu. ''Malu dan iman keduanya selalu berkaitan. Apabila salah satu di antaranya lenyap, yang lainnya pun akan lenyap pula.'' Karena, ''Malu tidak akan pernah mendatangkan apapa-apa, kecuali kebaikan.''. Dan bahkan beliau pun bersabda: ''Sesungguhnya sebagian yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, 'Bila kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu'.'' Inilah sejumlah hadis Nabi s.a.w. yang terlacak dalam Soft-Ware al-Maktabah al-Syâmilah Edisi Terakhir.

Rasa malu memang bisa mejadi kendali, alat kontrol diri yang paling ampuh untuk mengarahkan perilaku kita. Bahkan, kalau kita mengacu pada sejumlah hadis di atas, sekiranya tidak ada rasa malu pada diri kita, tentu apa yang diisyaratkan hadis di atas akan benar-benar terjadi. Kita akan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa determinasi (batas) apa pun. Kita menjadi kehilangan kendali untuk melangkah ke arah tujuan hidup kita: "beribadah hanya kepada Allah". Kalau sudah seperti itu kondiosinya, bukan tidak mungkin berbagai penyelewengan dan penyimpangan hampir pasti akan kita lakukan tanpa adanya perasaan bersalah.

Kini tampak jelas, 'cetho welo-welo" (kata orang Jawa), berbagai penyimpangan itu yang dikahatirkan akan terjadi, benar-benar terjadi dengan kemasan indah, dikemas dalam tampilan yang kesalehan semua dan dan seolah-olah "agamis". Bulan-bulan – pada tahun kampanye -- menjelang pemilu banyak orang yang piawai mengemas kesalehan dengan bungkus-bungkus simbol keagamaan yang pekat. Tanpa adanya rasa malu, apa yang tidak layak tiba-tiba menjadi "pantas", dan apa yang terlarang sekonyong-konyong menjadi "boleh" dan dipandang baik oleh banyak orang karena tampilan kosmetikal para badut politik masa kini.

Rasanya teramat penting untuk dipahami, utamanya oleh pemeluk Islam, yang kini tengah sibuk untuk mencitrakan dirinya sebagai yang patut dipuji, dicinta dan dihormati karena sedang berproses untuk menuju singgasana idaman, bahwa rasa malu seharusnya benar-benar (harus) dimiliki, dan diarahkan pada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Katakan – dengan lantang --yang salah adalah salah, dan yang buruk adalah buruk. Sebaliknya tampilkan nyali kita untuk menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang baik adalah baik. Jangan terlalu banyak memakai topeng untuk bersandiwara. Memang, tidak semestinya seseorang malu untuk menuntut apa yang memang menjadi haknya. Namun, ingat juga bahwa ia seharusnya malu jika mengambil apa-apa yang bukan haknya, walaupun tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui perbuatannya. Karena, seberapa canggih orang memanipulasi sikap dan tindakannya, "Allah tidak pernah tidak tahu".

Kita masih ingat tentang cerita kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Tsamud, kaum Nuh, kaum Musa dan bahkan "Si Qarun" (Si Tamak Harta) yang ketika mereka tidak pernah merasa malu untuk berbuat salah, akhirnya harus menghadapi azab Tuhan mereka, Allah Yang Maha Perkasa, yang keperkasaannya tak pernah tertandingi oleh si apapun dalam konteks apa pun.
Nabi Luth a.s. (dan juga para nabi yang lain) selalu mengingatkan kaumnya (yang menyimpang dari aturan Tuhan) ketika mereka datang berbondong-bondong dan dengan bekal dorongan hawa nafsu untuk meraih kenikmatan duniawi. Mereka yakin dan begitu percaya diri akan meraihnya. Namun, apa hendak dikata, dengan rasa malu mereka kepada Allah (Tuhan mereka) yang sudah hilang dari diri mereka untuk melampiaskan 'nafsu' sesuka mereka, akhirnya Allah menurunkan azab atas diri mereka. Mereka telah berbuat sesuatu dengan sia-sia, karena ketidakmauannya untuk ingat kepada Allah. Mereka telah kehilangan rasa malu, atau atau malu kepada Sang Khaliq.

Berbeda dengan para Nabi dengan seluruh pengikut setinya, yang selalu memili memiliki rasa malu yang kuat kepada Allah, sehingga – dengan rasa malu mereka itu -- tertuntun ke arah perilaku yang serba positif. Dan setiap saat setan menggoda di hadapan mereka, mereka selalu berkata "tidak", mirip dengan kampanye 'vulgar' salah satu partai politik peserta pemilu (kita) pada tahun 2009 ini, dengan hati yang bergetar mereka bisikkan rangkaian kata: ''sungguh saya malu pada Allah untuk berbuat yang salah.'' Dan mereka pun berani berteriak: "say no to satan (katakan tidak pada setan), termasuk di dalamnya (untuk) menolak terhadap seluruh bisikan dan bujuk-rayu mereka"

Akhirnya harus kita katakan: andaikata semua orang bisa menyatakan hal yang sama, ketika rasa malu sudah menjadi karakter kolektif bangsa ini, dan menjadi bagian dari budaya mereka, "budaya malu". Di ketika semua pihak berkesadaran untuk saling mengingatkan, sebagaimana pesan moral al-Quran dalam surat al-'Ashr, agar semua orang – utamanya umat Islam -- merasa malu setiap kali terdorong melakukan hal yang salah. Maka "rasa malu", yang selama ini tersimpan di lubuk hati setiap manusia, akan menjadi ''obat panasea'' yang akan memberikan kesembuhan bagi masyarakat luas yang kini tengah terjangkiti penyakit "tidak punya rasa malu".

Insyaallah seluruh lapisan masyarakat kita -- yang semula tidak atau minimal kurang memiliki rasa malu, dengan kesadaran baru untuk membuang penyakit "tidak merasa malu kepada Allah ketika berbuat salah", akan menjadi manusia-manusia "sehat", penuh rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat.

Seharusnya para pemimpin kita yang tengah mendapatkan amanah dari rakyat benar-benar berbekal "malu". Malu ketika belum mampu berbuat "yang terbaik" untuk rakyat, malu sebelum mampu memberdayakan rakyat, apalagi sampai tega "memperdayai" rakyat. Para ulama atau cendekiawan yang berfungsi sebagai penyejuk hati umat, juga seharusnya berbekal diri dengan "rasa malu". Malu bila mau diperalat penguasa, malu bila tidak bisa memberikan masukan yang positif bagi rakyat, dan malu bila menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Kita pun selalu berdoa, semoga Allah SWT selalu menuntun, membimbing, dan melindungi seluruh rakyat di negeri ini dengan "rasa malu" yang sama. Malu ketika belum menjadi orang yang sadar untuk menjadi "yang terbaik" di sisi Allah, menjadi orang-orang yang benar bertakwa kepada Allah.

Sebagaimana pernyataan A. Sobary di atas, tanpa harus bertanya: "apa yang seharusnya diberikan oleh Allah sebagai akibat dari ketakwaan kita terhadap-Nya".
Namun, hingga saat saat ini kita kita pun masih pantas bertanya: "Apakah masih ada rasa malu di hati kita?" Barangkali pertanyaan inilah yang akan menggugah kesadaran dan perhatian kita untuk menjadi penyelamat umat, negara dan bangsa ini, kini dan masa yang akan datang.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta