Selasa, 31 Maret 2009

MEMELIHARA SIKAP IKHLAS

MEMELIHARA SIKAP IKHLAS

Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu shalat berjamaah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga shalat di shaf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jamaah yang lain yang melihatnya shalat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senang-hatinya, tenang-hatinya tatkala shalat di shaf yang pertama adalah karena “pandangan manusia”. Dan ia pun beristighfar. Dia yakin: “tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…”

Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorang pun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini.

Keikhlasan sering terganggu karena orang menginginkan popularitas. Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas ... jangan dibayangkan!!”-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar (na'udzu billahi min dzalik), yang toh setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).

Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah kita saksikan di televisi), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umrah), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. Demi Allah, seandainya salah seorang di antra mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal di antara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.

Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakikatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi di hadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apa pun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan di mata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia, "jaga imej", istilah populernya. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapa pun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan isterinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya, tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlishin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.

Oleh karena itu banyak orang yang ’benar-benar’ saleh (yang) membenci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keikhlasan mereka, dan karena mereka khawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

Bagaimana dengan kita?

Kamis, 19 Maret 2009

ISTIQAMAH

ISTIQÂMAH

Oleh: Muhsin Hariyanto

Suatu ketika, Nabi s.a.w. dimintai nasihat oleh seorang laki-laki: “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seseorang selain hanya kepada engkau.” Atas permintaan itu pun Nabi s.a.w. bersabda: ”Katakanlah! Aku beriman kepada Allah kemudian (bersikap) istiqâmah.” Belum puas dengan nasihat itu, laki-laki itu pun meminta nasihat lagi kepada Nabi s.a.w.: “Ya Rasulullah apa yang harus aku jaga, setelah itu?” Atas permintannya itu pun Nabi s.a.w. mengisyaratkan kepada lidahnya sendiri dan berkata: “ini” (Hadis Shahih riwayat Muslim dari Sofyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi).

Banyak hal yang bisa menjadikan diri kita 'gamang' mengahadapi persoalan hidup, karena kita hidup tidak selalu dalam lingkaran sistem dan budaya 'sehat. Bahkan dalam banyak hal kita ditantang oleh sebuah kenyataan hidup yang serba menggoda, hingga iman kita serasa semakin menipis dan suatu saat mungkin akan sirna karena kelemahan kita sendiri ketika menghadapi realitas kehidupan yang serba menekan.

Hadis di atas mengisyaratkan, bahwa panduan hidup itu cukup sederhana; "jadilah orang yang beriman, bersikap istiqâmah dan – kemudian – "jaga lidah kita". Tiga rangkaian modal kita untuk berproses menuju visi keislaman kita: "menjadi muslim sejati, muslim kâffah, muslim yang – dalam seluruh bagian kehidupan kita -- terhiasi oleh al-Akhlâq al-Karîmah. Fondasi iman dan sikap istiqâmah sering dinyatakan sebagai pasangan, bagaikan dua-sisi dari sekeping mata-uang, dan sekaligus menjadi modal dasar yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi setiap manusia dalan mengarungi kehidupannya. Karena iman tidak mungkin akan mewujud menjadi tindakan serba-positif tanpa sikap istiqâmah, dengan prasyarat pengiring: hifzh al-lisân (menjaga lidah), yang – dalam banyak hal – seringkali menjadikan seseorang tergelincir ke dalam lembah kenistaan.

Kata "istiqâmah" menurut pengertian kebahasaan bahasa bermaka: "lurus, lempang dan tidak berbelok-belok". Dalam kaitannya dengan hal ini, Umar bin Khathab r.a. pernah menjelaskan bahwa, seseorang yang telah bersikap istiqâmah akan selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak akan pernah sedikit pun akan melakukan penyimpangan atas aturan-aturan-Nya. Sementara itu Abu Bakar ash-Shiddiq menambahkan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “istiqâmah “ sesudah beriman ialah: "tidak bersikap syirik dalam bentuk apa pun". Bahkan Allah pun menegaskan: “Dan tetaplah (bersikap istiqâmah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS asy-Syûrâ, 42: 15). Sikap istiqâmah dalam koridor "iman" mempersyaratkan komitmen kuat untuk hanya bertuhan kepada Allah semata-mata, dalam bentuk mono loyalitas dan membangun semangat (untuk) selalu beramal saleh dalam setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun dalam bentuk apa pun.

Dengan penjelasaan di atas, maka istiqâmah harus bisa membentuk karakter dan kepribadian setiap orang beriman, yang lidahnya tak pernah 'kelu' untuk mengucapkan kalimah thayyibah (ucapan yang baik), dan memiliki integritas sebagai seseorang "muslim yang memiliki kesalehan ganda, vertikal-horisontal. Menjadi selalu menjadi pribadi yang "saleh" dalam konteks hablun minallâh dan hablun minannâs sekaligus. Jadikan hidup kita dengan motto dan garis hidup: "hidup adalah pengabdian, perjuangan dan pengorbanan untuk menggapai ridha Allah".

Ketika kita bertanya, kenapa Nabi s.a.w. menyebut "iman" sebelum istiqâmah? Jawab sederhananya adalah: "tanpa fondasi iman, tentu saja sikap istiqâmah akan menjadi sesuatu yang buram, atau paling tidak akan berocak abu-abu. Sementara itu pertanyaaan lanjutnya: "kenapa iman harus ditindaklanjuti dengan sikap istiqâmah? Jawab tegsanya adalah: "tidak mungkin seseorang dapat mempertahankan eksistensi dirinya sebagai orang beriman tanpa sikap istiqâmah". Kemungkinan besar jika seseorang telah beriman tanpa sikap istiqâmah, ia akan menjadi seseorang mudah tergoda oleh sejumlah kepentingan duniawi. Sementara itu seseorang yang berupaya bersikap istiqâmah dengan prinsip hidupnya yang tidak jelas – tanpa iman-- ia akan terombang-ambing oleh tawaran banyak orang, yang menjajakan berbagai panduan hidup berdasarkan orientasi dan ideologi mereka yang – sangat mungkin – akan mengarahkan dirinya pada visi yang salah. Mungkin saja seseorang akan berhasil dalam "karir" kehidupan duniawinya, tetapi goyah pendiriannya dan luntur kepribadiannya, dan mungkin saja "tergadaikan" pada kepentingan-kepentingan duniawinya.

Kita bisa belajar dari sejarah. Ternyata hanya orang-orang beriman dan bersikap istiqâmahlah yang dapat memikul tanggung jawab yang besar. Para Nabi -- kekasih Allah -- dipilih untuk melaksanakan berbagai tugas besar, dan mereka mampu melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Para shahabat Nabi s.a.w. yang sukses memerankan dirinya sebagai apa pun dalam proses aktualisasi dirinya, ternyata mereka adalah sejumlah orang saleh yang "kokoh" imannya dan memiliki sikap istiqâmah, berpendirian teguh sesudah iman merasuk ke dalam hati-sanubarinya. Sikap istiqâmah mereka melahirkan serangkaian sikap dan tindakan serba-positif: percaya diri dan optimistik, enerjik, kreatif, inovatif ketika melangkah menuju tujuan dan cita-cita hidupnya, Mereka telah dapat membuktikan dirinya menjadi manusia-manusia visioner, dan kisah-kisah hidupnya tertulis dalam "tinta-emas", selalu dikenang dan – tentu saja – layak diteladani.

Ketika kita kuak dalam nash (teks) al-Quran dan sirah (sejarah perjalanan hidup) mereka, kita temukan sejumlah pelajaran dari mereka, teks sejarah mereka telah mengabadikan 'ibrah (contoh pelajaran). Mereka – ternyata -- hadir hanya dengan dua panduan hidup: "iman dan sikap istiqâmah", seperti yang diisyaratkan oleh Nabi s.a.w. kepada seorang laki-laki yang pernah memohon nasihat kepadanya. Nasihat universal dari Nabi s.a.w. untuk siapa pun, dalam konteks apa pun.

Tidak hanya Nabi kita, Nabi Muhammad s.a.w. yang mengisyaratkan artipentingnya "iman dan sikap istiqâmah. Konon, -- dulu -- ketika Nabi Musa a.s. harus berhadapan dengan raja yang mengklaim sebagai maharaja yang paling-berkuasa, seorang diktator yang dikenal sangat zalim; Firaun, yang sejarah kezalimannya diabadikan dalam rangkaian ayat-ayat al-Quran, berhadapan dengan tukang-tukang sihir dan kejaran bala tentara Firaun yang sangat kuat sehingga terdesak sampai di Laut Merah, Ia – Musa a.s. – hanya memerlukan dua senjata: iman dan sikap istiqâmah, yang mampu melahirkan "optimisme". Dan dengan sikap "tawakal", sebagai implikasi dari iman dan sikap istiqâmahnya, akhirnya ia pun memenangkan perseturuan abadinya dengan "Sang Diktator", dengan "husnul khâtimah", happy-ending, menang-telak tanpa balas.

Apalagi ketika kita mau belajar pada sîrah (sejarah perjalanan hidup) Nabi Muhammad s.a.w.. Tidak diragukan lagi bahwa modal dasar "iman dan sikap istiqâmahnya telah menghadirkan kesuksesan yang luar biasa. Peristiwa demi peristiwa, tantangan dan ancaman dilaluinya dengan para shahabatnya. Beberapa kali usaha pembunuhan terhadap dirinya, dan berapa kali usaha penyerbuan mereka untuk menghancurleburkan kaum muslimin, tidak pernah membuat gentar hati beliau dan para shahabatnya. Bahkan – konon – justeru menambah kekuatan iman dan sikap istiqâmah mereka. Karena terbukti, mereka masih bisa berucap: “hasbunallâh wa ni’mal wakîl”, cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dialah sebaik-baik pelindung" (QS Âli 'Imrân, 3: 173).

Sedemikian besar perhatian Allah terhadap orang-orang yang memiliki iman dan – sekaligus -- sifat istiqâmah. Dari merekalah diharapkan lahir segala macam bentuk kebajikan dan keutamaan, dan – tentu saja -- sekaligus merupakan harapan agar kita – umat Islam – mampu memberi konstribusi yang terbaik terhadap semuanya dalam kehidupan ini, selaras dengan misi Islam sebagai "rahmatan lil ‘âlamin".

Semoga!

Penulis adalah: Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES 'AisyiyahYogyakarta.

Rabu, 18 Maret 2009

WARISAN YUNANI, ISKANDARIAH DAN TIMUR (ASIA)

WARISAN YUNANI, ISKANDARIAH DAN TIMUR (ASIA):

SUASANA TIMUR DEKAT PADA ABAD KETUJUH[1]

Oleh: Majid Fakhry

Penaklukan Arab atas Timur Dekat telah selesai menjelang tahun 541, ketika Iskandariah jatuh ke tangan Jenderal Arab, 'Amr ibn al-'Ash. Kebudayaan Yunani telah tumbuh subur di Mesir, Syria dan Irak sejah masa Iskandar Agung. Tetapi, jatuhnya kota Iskandariah telah menundukkan mereka di bawah kekuasaan Arab, dan mengakhiri abad-abad lama kekuasaan kekuasaan Persia dan Bizantium di wilayah tersebut.

Beberapa alasan telah dikemukakan berkenaan dengan cepatnya proses penaklukan itu. Tindakan perluasan Kaisar Romawi, Heraclius, pada tahun 610, menimbulkan suatu masa perseteruan sengit antara orang-orang Persia dan Bizantium yang telah terlibat dalam suatu pertempuran panjang untuk memperoleh pengaruh militer di Timur Dekat. Hal ini tentu saja sangat melemahkan kekuatan kedua belah pihak yang telah bertarung sedemikian lama, sehingga tentara Arab berhasil mencatat serangkaian kemenangan yang menentukan terhadap kedua pasukan yang jauh lebih unggul dan banyak jumlahnya, meskipun orang-orang Arab sebenarnya belum banyak berpengalaman dalam perang-perang berskala besar.

Selain itu, perbedaan dan perseteruan keagamaan, di mana terlibat orang-orang sekte Nestorian, Monofisite dan Meichite (aliran ortodoks) menimbulkan rasa tidak puas dan senang penduduk Mesir, Syria dan Irak. Dalam keadaan seperti itu, tidak heran kalau orang-orang Arab disambut sebagai pembebas oleh sebagian besar orang-orang yang berharap agar orang-orang Arab itu akan dapat melenyapkan penindasan opresif dari Konstaninopel yang dilakukan dengan dalih menjaga kemurnian (ortodoksi), terutama sejak masa pemerintahan Justinian (527-565).

Iskandariah merupakan pusat studi filsafat dan teologi Yunani yang sangat penting pada abad ketujuh, sekalipun tentu saja bukan satu-satunya. Di Syria dan Irak, (filsafat dan teologi) Yunani sudah dipelajari sejak abad keempat; tepatnya di kota Antioch, Haraan, Edessa dan Qinnesrin di (kawasan) Syria Utara, dan di kota Nisibis dan Ras'aina di dataran tinggi Irak. Pusat-pusat studi ini masih berkembang subur ketika pasukan Arab memasuki wilayah Syria dan Irak. Kajian mengenai Yunani telah diupayakan, terutama sebagai cara untuk memberi kunci masuk ke dalam naskah-naskah teologi yang mengalir, terutama dari Iskandariah kepada para sarjana Syria dari pelbagi lembaga yang patut dihormati ini. Pada saat itu berbagai risalah teologi diterjemahkan ke dalam bahasa Syria, khususnya karya Eusebius: "Sejarah Gereja-gereja", "Pengakuan" yang dianggap berasal dari St. Clement dari Iskandariah, "Theophany" karya Eusebius, "Discourses" karya Titus dari Bostra untuk melawan kaum Manichaean, dan karya-karya Theodor dari Mopseustia serta Diodorus dari Tarsus.[2]

Bersama dengan terjemah naskah-naskah teologis itu, seringkali diikutsertakan terjemah karya-karya yang berkaitan dengan logika. Hal ini didorong oleh kebutuhan untuk meneliti makna yang lebih dalam tentang konsep-konsep teologis dan proses dialektis yang dikenalkan dalam perdebatan kristologis pada masa itu. Tetapi perlu dicatat, bahwa para penerjemah itu tidak meneruskan terjemah mereka sampai pada Isagoge Porphyry, Categories, Hermeutica dan Analytica Priora.[3] Sebagaimana terbukti dalam tradisi yang dinisbatkan atas nama Al-Farabi dalam sumber-sumber yang berbahasa Arab, bahwa studi-studi logika tidak dikejar sampai ada Analytisa Priora, karena adanya bahaya-bahaya yang terkandung dalam mempelajari argumen-argumen demonstratif dan sofistis.[4]

Penaklukan oleh bangsa Arab pada umumnya tidak mengganggu penelitian akademik yang dilakukan para sarjana di Edessa, Nisibis dan pusat-pusat studi lainnya di Timur Dekat. Salah satu indikatornya adalah kenyataan bahwa Edessa (Arb.: Al-Ruha) terus berkembang dengan baik sampai dasa warsa terakhir abad ketujuh Karya teologis dan filosofis yang agung dari salah seorang pakarnya yang terkemuka, Jacob dari Edessa (w. 708) merupakan sebuah monumen yang menandai kebebasan berpikir yang ia nikmati bersama-sama dengan rekan-rekannya yang lain.[5]

Studi-studi teologis masih terus ditekuni tanpa mengalami hambatan pada abad ketujuh di biara Monofisit Qinnesin di Syria Utara. Biara yang didirikan John bar Aphtona (w. 538) pada abad keenam, telah menghasilkan sejumlah sarjana, seorang di antaranya yang paling menonjol ialah Severus Sebokht (w. 667). Ia menyusun beberapa komentar tentang Hermeneutica dan Rethorica Aristoteles dan menulis risalah tentang Syllogisme Analytica Priora.[6] Murid Severus yang paling terkenal ialah Jacob dari Edessa, yang karya-karyanya meliputi bidang yang amat luas, seperti: teologi, filsafat, geologi, tata-bahasa dan kajian ilmiah lainnya. Karya-karya filosofis Jacob yang ada pada kami adalah Risalah tentang Terma-terma Teknis, Enchiridion, dan terjemah Categories[7] (ke dalam bahasa Arab).

Biara Qinnesin menghasikan dua sarjana lainnya yang terkemuka: Athanasius dari Balad (w. 696) dan muridnya, George, seorang Uskup Arab (w. 724) yang kedua-duanya telah menerjemahkan dan mengomentari Categories, Hermeneutica dan buku pertama dari Analytica Priora karya Aristoteles, seperti halnya Isalog karya Porphyry.[8] Begitu tinggi Renan menilai karya George, sehingga ia menyatakan bahwa "di antara para penafsir Syria, tidak ada seorang pun yang dapat menandingi artipenting kecermatannya dalam memberikan penjelasan.[9]

Masih ada dua lembaga studi Yunani lain yang penting pada abad ketujuh di Harran dan Jundishapur. Harran, kota di sebelah utara Syria telah menjadi tempat bermukim aliran para pemuja bintang, yang selama masa pemerintahan Abbasiyah disebut sebagai kaum Sabaean (Arb: Al-Shaba'ah) yang disebut dalam al-Quran. Agama mereka, seperti juga pengaruh-pengaruh Helenistik, Gnostik dan Hermetik, mampu membuat kaum Harran bertindak secara istimewa sebagai mata rantai penyebaran ilmu Yunani kepada orang-orang Arab, dan dari permulaan abad kesembilan mampu melengkapi istana Abbasiyah dengan sekelompok Astrolog yang terpilih. Kita memiliki kesempatan untuk memperhitungkan sumbangan yang diberikan oleh beberapa sarjana Harran yang utama, seperti Tsabit bin Qurra yang termasyhur (w. 901), puteranya, Sinan, dan dua orang cucunya, Tsabit dan Ibrahim, dalam studi matematika dan astronomi serta peranan mereka dalam menyebarkan ilmu Yunani di kalangan orang-orang Arab.

Perguruan Jundishapur, yang didirikan oleh Chosrous I (Anushirwan) sekitar tahun 555 dianggap sebagai lembaga utama pengajian Helenik di Asia Barat, yang pengaruhnya telah menyebar ke dunia Islam pada masa pemerintahan 'Abbasiyah. Guru-gurunya yang beraliran Nestorian, oleh Chosrous yang bijaksana diperkenankan untuk menekuni studi-stdi ilmiah mereka dan merumuskan tradisi-tradisi keilmuan Syria-Yunani. Guru Yunani disambut oleh kalangan istana Persia, ketika sekolah Athena ditutup atas perintah Kaisar Justianus, dan guru-guru pagan diperiksa untuk menghindarkan diri dari persekusi tahun 529. Pada saat itu sekolah Jndishapur dengan fakultas kedoteran, akademi dan observatoriumnya mencapai puncak kemasyhurannya dan masih berkembang dengan pesat ketika kota Baghdad didirikan pada tahun 762 oleh Khalifah 'Abbasiyah di al-Manshur. Karena Jundishapur berdekatan dengan Baghdad, relasi politis orang-orang Persia dengan Khalifah 'Abbasiyah sangat erat. Akhirnya, dari sekolah inilah perkembangan ilmiah dan intelektual menyebar ke seluruh kerajaan Muslim. Sejak awal Jundishapur telah menyumbang kepada Khalifah di Baghdad sejumlah dokter-dokter istana, seperti halnya sejumlah keluarga Nestorian, Bakhtishu yang terkenal, yang mengabdi kepada Khalifah dengan setia lebih dari dua abad. Mereka juga banyak membantu pembangunan rumah-rumah sakit dan observatorium di Baghdad dengan mengikuti model Jundishapur, selama masa pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) dan penerusnya al-Ma'mun (813-833)[10]

Perhatian kepada filsafat dan ilmu-ilmu teoritis juga banyak muncul, berkat dorongan sekolah Jundishapur. Seorang Persia, yaitu Yahya al-Barmaki (w. 657), menteri dan penasihat Harun al-Rasyid, yang antusiasmenya luar biasa terhadap studi-studi Helenis, sangat membantu perkembangan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan seorang murid Jibril bin Bakhtishu-lah, yaitu Yuhanna bin Masawayh (w. 857), guru Hunain Agung, yang menjadi penerjemah Arab pertama yang paling menonjol dari karya-karya Yunani. Ia juga menjadi Kepala Sekolah Baghdad (Bait al-Hikmah) pertama, yang didirikan oleh al-Ma'mun pada tahun 830.


[1] Diterjemahkan oleh Muhsin Hariyanto, dari Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, New York & London: Columbia University Press: 1970

[2] Duval. Histoire d'Edesse, h. 162 dan Wright, History of Syriac Literature, h. 61 dst.

[3] Lihat Georr, Les Categories d'Aristote dans leurs versions syro-arabes, h. 14, Baumstark, Geschichte der Syrischen Literatur, h. 1001; dan Wright, History of Syrac Literaure, h. 74 ds.t.

[4] Lihat Ibnu Abi Ushaybi'ah, 'Uyun a-Anba', II, h. 134 dst. Bandingkan dengan yang di bawah h. 61 dst.

[5] Untuk kegiatan literal Jacob, lihat Duval, Histoire 'Edesse, hh. 244-51.

[6] Georr, Les categories, h. 25 dst. Duval, La literature Syriaque, h. 257. Wrigh History of Syriac Literature, h. 138.

[7] Georr, Les categories, h. 27, dan Baumstark, Geschichte, hh. 248-56. Wright menentang bahwa karya terakhir itu karangan Jacob(History of Syriac Literature, h. 91)

[8] Wright, History of Syriac Literature, hh. 155 dst., dan Duval, La Literature syriaque, hh. 258 dst.

[9] Renan, De philosophia peripatetica apud Syros, h. 33/

[10] Ibn al-Ibri, Mukhtashar Tarikh al-umam, h. 130; dan Hitti, History of the Arabs, h. 309, 365, 373.

Selasa, 10 Maret 2009

MENCARI PEMIMPIN IDEAL

MENCARI PEMIMPIN IDEAL

Oleh: Muhsin Hariyanto

Kita butuh pemimpin ideal, yang berkemampuan untuk memberi suri teladan seperti Nabi kita, Muhammad s.a.w., Seorang yang memiliki karakter utuh: Shiddiq, Fathanah, Amanah, dan Tabligh. Karena kepemimpinannya, masyarakat jahiliyah yang dipimpinya menjadi komunitas yang tercerahkan dan mencerahkan.

Awal tahun 2009 ini, di negeri kita tercinta – Indonesia -- wacana pemimpin dan kepemimpinan semakin hangat dibicarakan. Bahkan pelbagai diskusi dan dialog dibula lebar-lebar, baik dari kalangan politisi, pengamat, kampus sampai di kursi-kursi warung kopi. Berbagai macam asumsi pun diajukan, hingga berupa tawaran gagasan kepemimpinan yang dianggap sesuai dan menjadi model bagi negeri kita ini.

Kita tahu, bahwa pemimpin – dalam konteks kepemimpinan -- adalah suatu peran dalam sistem tertentu, karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki keterampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu kepemimpinan boleh jadi dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”.

Seorang pemimpin adalah orang yang mau belajar terus-menerus, membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan. Dia adalah pelayan yang melihat hidup sebagai suatu "misi" dan bukan sekadar "karir", apalagi peluang untuk memperoleh kue-kekuasaan. Dia pancarkan energi positif, sikap optimis, berpikir positif dan inovatif. Dia adalah orang yang bisa mempercayai orang lain, tidak bereaksi berlebihan pada setiap perilaku negatif, kritik dan kelemahan. Dia hidup dalam keseimbangan, memperhatian keseimbangan jasmani dan ruhani, antara yang tradisional dan modern, dan tentu saja tekstual dan kontekstual. Seorang pemimpin akan melihat hidup sebagai perjalanan hidup. Dia hargai hidup di luar kenyamanan. Dia adalah orang yang sinergistik, memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan komunitas yang dipimpinnya, dan mampu membina energi-energi yang dimiliki kelompoknya.

Dalam hal ini, Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin dituntut (untuk) mampu menampilkan kepribadian yang ber-akhlaqul karimah (memiliki moralitas yang baik), qana’ah (sederhana), dan istiqamah (konsisten/tidak ambivalen). Sedangkan berdasarkan suri tauladan kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. adalah: Shiddiq artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan. Fathanah artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesional. Amanah artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. Tabligh artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.

Memang ironis! Di ketika kita memiliki sangat banyak bacaan, sangat banyak referensi, banyak pula perbandingan yang boleh dipetik dari kesalahan-kesalahan, tetapi kita terpuruk dalam wilayah krisis kepemimpinan. Bahkan dalam setiap ajang pemilihan yang paling demokratis pun untuk memilih pemimpin baik di ranah nasional maupun lokal, kita gagal menghadirkan sosok pemimpin yang terbaik.

Persolaan pokonya ternyata bukan hanya pada kesalahan rakyat pemilihnya, tetapi faktor terbesar -- yang menghadirkan kesalahan yang terus berulang itu -- adalah terletak pada gagalnya instrumen demokrasi kita untuk menempa, menyeleksi dan menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang mumpuni. Karena mulai dari input dan proses yang tidak ‘bergaransi’ terbaik dan terpercaya, maka output yang disodorkan sebagai ‘multiple choice’ bagi rakyat adalah pilihan-pilihan sosok-sosok pemimpin yang bermasalah dan kurang baik. jika tidak boleh dikatakan ‘jelek’.

Hal ini dapat terlihat, bagaimana mungkin menjadi pemimpin yang bakal memimpin bangsa besar tetapi karakteristik calon para pemimpin kita adalah orang-orang yang terjebak atau terperangkap dalam kepentingan partai atau kelompok, dan mereka terperangkap dalam kepentingan-kepentingan sempit. Apalagi memang jika dilihat dari sisi keteladanan, jauh dari kata ‘memadai'.

Selain itu, saat ini terbukti, kita semakin susah mencari seorang pemimpin yang memiliki kemampuan mendamaikan, yang bisa diterima dan dipercaya menjadi ‘penengah’ yang tidak berpikir untuk kepentingan sesuatu kelompok atau pribadinya. Sebab pemimpin yang seperti itu harus memiliki kapabilitas, kredibilitas dan integritasnya yang tinggi, sehingga bisa diterima oleh berbagai pihak.

Jika kita melakukan kilas balik ke belakang, sesungguhnya dahulu kala, ketika pada era kepemimpinan tokoh-tokoh non-formal dalam masyarakat, kita pernah melihat masa kepemimpinan dimana ketika setiap ucapan mereka menjadi fatwa, ketika itu mereka amat disegani. Tapi kini entah siapa yang salah, nilai-nilai itu nampaknya telah bergeser. Bukan sekadar salah rakyat yang tidak lagi menghormati para pemimpinnya, karena tidak sedikit pemimpin yang tidak lagi menunjukkan sikap keteladanan , serta tak lagi bersikap "amanah".

Merujuk pada konsep kepemimpinan, minimal ada tiga aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertama, kapabilitas (capability) - kemampuan; kedua, kredibilitas (credibility) - dapat dipercaya dan ketiga, integritas (integrity) - kejujuran. Bila ketiga faktor ini telah dimiliki oleh seorang pemimpin, maka orang ini sudah termasuk pemimpin yang berkepribadian mulia. Dia akan mampu membawa masyarakatnya kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Orang bijak selalu mengatakan, bahwa kekuasaan dan kepemimpinan sesungguhnya merupakan amanah dari rakyat. Bila sang pemimpin memperoleh kekuasaan maka kekuasaan itu haruslah dipergunakan sebaik-baiknya untuk peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.
Dalam alam-demokrasi, pada pemilu 2009 yang akan dating, memang tidak ada larangan bagi semua warga untu berpartisipasi, ikut bersaing untuk meraih jabatan publik. Hanya saja semua memerlukan 'fatsoen' (etika) politik. Jangan sampai gara-gara ingin jadi pemimpin, lalu bertindak gaya "koboi". Yang penting tujuan tercapai dengan cara apa pun. Ini yang semestinya dihindari. Cuma, siapa yang bisa menjamin bahwa semua tindakan tidak-etis itu akan tidak pernah muncul dalam kampanye politik?
Yang aneh, bahkan imbauan-imbauan dari banyak pihak, tak satu pun yang menyentuh sisi ini. Alih-alih ada imbauan "moral" yang lantang, malah yang datang – tiba-tiba -- justru fatwa sekelompok orang yang cukup otoritatif mengenai "golput". Tentu saja hal ini cukup membingungkan banyak pihak. Utamanya sempat membuat kaget sejumlah komponen anak-bangsa yang kini sudah mulai memiliki budaya politik "partisipan", dan bahkan para calon pemilih yang sedang berproses untuk berbudaya politik subjek. Kata orang, sekarang ini budaya politik masyarakat kita sudah bukan 'budaya politik parokial ' lagi. Sehingga banyak orang – di seputar kita -- bertanya: "kemana arah fatwa ini?.
Munculnya kepemimpinan nasional 'Orde Pembaruan' pasca pemilu 2009 sekarang memang sangat diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat yang sadar akan makna kepemimpinan. Tapi, kenyataan menunjukkan masih adanya calon-calon pemimpin yang sengaja menawarkan diri untuk dipilih menjadi pemimpin dengan motif yang -- diduga kuat -- sangat berorientasi pada "ghanimah" (kepemilikan 'kekayaan').
Pada pemilu 2009 ini, orang berharap 'ada' kejujuran dan keterbukaan dari masing-masing calon pemimpin kita (termasuk tim suksesnya), agar rakyat bisa memilih yang terbaik dan tidak khawatir untuk menjadi -- yang potensial -- tertipu lagi.
Akhirnya, penulis pun berharap: andai saat ini tersedia calon-calon pemimpin yang bisa memberi suri teladan seperti Nabi kita, Muhammad s.a.w., yang memiliki karakteristik: shiddiq (jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan); fathanah (cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesiona)l; amanah (dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel); dan tabligh (senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif), bisa kita harapkan pada pemilu 2009 nanti tak perlu ada calon pemilih yang bersikap 'golput'. Dan, untuk selanjutnya para ulama tak perlu repot-repot lagi menerbitkan fatwa yang semacam itu.
Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.

Senin, 26 Januari 2009

ISTIGHFAR

ISTIGHFÂR

Oleh: Muhsin Hariyanto

Tentanggaku bernama "Sanip", Ia pernah sekali beribadah haji. Sehari-hari dia hanyalah seorang pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. "Orang Betawi asli". Meskipun ibadahnya (di masjid) tak sesering para kiai di pesantren-pesantren, saya bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa shalatnya hanya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfâr (mohon ampun), dia bilang bahwa ia tak ingin minta yang aneh-aneh. "Dia malu kepada Allah", karena sudah terlalu banyak diberi, sementara (ia) belum sempat banyak memberi" untuk dan karena Allah. Dan oleh karenanya "iia merasa perlu banyak ber istighfâr." (Mohammad Sobary, "Saleh dan Malu", dalam Tempo, 16 Maret 1991)

 

Banyak orang yang ketika berdoa, dia selalu meminta apa pun kepada Allah, 'apa saja' yang dia inginkan, dan tak bosan-bosan ia meminta apa pun yang dianggapnya bisa membuat dirinya senang dalam hidupnya, padahal sudah terlalu banyak Allah memberi kepadanya.

Seringkali orang tidak sadar bahwa dirinya telah lupa untuk bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh kepadanya, dan ia merasa selalu dalam kekurangan. Dan oleh karena itu ia selalu akan terus "meminta" kepada Allah dalam setiap doanya.

Lain halnya dengan Bang Sanip, yang telah memberi pelajaran bagi kita semua, bahwa yang belum banyak kita lakukan adalah: beristighfâr, memohon ampunan atas segala dosa yang pernah kita lakukan, disertai upaya optimal untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, dan menindaklanjutinya dengan sejumlah amal saleh.

Kini, kewajiban beristighfâr itu sudah seharusnya menjadi kesaadaran yang semakin kuat bagi kita, (bagi) orang-orang yang hadir dalam sebuah sistem dan budaya 'korup', dalam berbagai kemaksiatan-kolektif yang seolah dilegalkan, karena diri kita yang sudah sedemikian akrab dengannya, dengan "dosa-kolektif".

Mungkin kita – dengan lantang – bisa meneriakkan slogan "anti-maksiat" di tempat kita berpijak. Tetapi ternyata kita menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan sisten dan budaya 'korup' yang melingkupi diri kita, di "bumi pertiwi" di mana kita berpijak. Karena – ternyata -- siapa pun yang berupaya untuk bisa menghindarkan diri dari perbuatan dosa, harus berhadapan dengan "hegemoni-mayoritas", mayoritas manusia yang menikmati dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk menikmati perbuatan dosa. Dan sudah banyak bukti, mereka yang lantang berteriak "anti-maksiat" akan terleliminasi secara sistematik. Menjadi orang-orang yang terpinggirkan, seolah tak berdaya.

Berpijak dari realitas itu, di bumi pertiwi ini – kata orang -- istighfâr bisa berfungsi sebagai perangkat untuk menghilangkan, mencuci atau paling tidak mengurangi kotoran batin kita, "dosa-dosa" pribadi dan kolektif yang melekat pada diri kita karena jebakan sistem dan budaya korup. Dan karena itulah – barangkali -- kenapa majlis-majlis zikir di negeri kita "ada" di mana-mana dan dihadiri olah banyak orang. Mungkin saja karena persepsi kolektif kita tentang "istighfâr" -- yang selalu dilafalkan dalam zikir-zikir mereka -- bisa menghapus segala macam dosa secara otomatis.

Apa yang dipersepsikan manusia tentang kegunaan istighfâr selama ini memang tidak selamnya "salah". Tetapi yang telah menjadi 'salah-kaprah' adalah: banyak di antara manusia mengira bahwa dengan hanya sekadar melafalkan istighfâr, astaghfullâhal azhîm berkali-kali, dengan mulut ber'komat-kamit' dan kepala menggeleng, tiba-tiba tanpa konsideran apa pun dosa-dosa yang menumpuk itu hilang-sirna. Seolah-olah Allah – Tuhan kita – sebegitu mudah ditaklukkan dengan ucapan-ucapan lisan yang sangat mudah dilafalkan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun, bahkan oleh para pelaku "rutin" dosa-dosa besar. Dan, jangan-jangan para koruptor di seputar kita, yang kadang-kadang tergerak hatinya untuk mengikuti majelis-majelis zikir yang diselenggarakan secara rutin di berbagai tempat di negeri kita, "berasumsi sama seperti itu". Sepekan "korupsi", terhapus dosa mereka oleh "zikir" sesaat.

Padahal, istighfâr bukanlah sekadar ucapan pemanis bibir. Bukan hanya sebuah permohonan ampun dan pengakuan atas laku dosa yang pernah diperbuat, apalagi permainan kata-kata yang tiba-tiba bisa mem"beres"kan semua dosa. Ada seperangkat nilai yang dimiliki oleh istighfâr yang sering kali dilupakan banyak manusia, yakni: kesadaran diri yang disebut ihsân. Esensi istighfâr dengan sikap ihsân terletak pada kesadaran akan kehadiran Allah SWT yang selalu menatap dan mengawasi. Sadar bahwa Allah SWT melihat, mengawasi, dan memonitor diri dalam gerak dan diam kita, lahir maupun batin.

Sikap ihsân dalam istighfâr memiliki dua nilai-sentral: "kejujuran" dan "keikhlasan", yang akan menghadirkan optimasi setiap manusia untuk menyadari artipentingnya meninggalkan perbuatan dosa dan mengerjakan amal saleh. Dan di sinilah makna istighfâr bertautan dengan "taubat", penyesalan yang berujung pada kesadaran untuk kembali ke titik-nol, dan kemudian membuka lembaran baru untuk menjadi yang terbaik.

Seandainya "Bang Sanip" telah memulai. Kita pun seharusnya segera memulainya.

Dalam kaitan dengan arti pentingnya untuk memulai istighfâr, Emha Ainun Najib menyapa diri kita dengan salah satu bait puisinya (sebagai bahan renungan):

Gusti … kamilah pesakitan; di penjara yang kami bangun sendiri; kamilah narapidana yang tak berwajah lagi; kaki dan tangan ini kami ikat sendiri; maka hukumlah dan ampuni kami; dan jangan biarkan terlalu lama menanti (Emha Ainun Najib, "doa pesakitan", dari kumpulan puisi ٍ Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba)

Kini, di saat kita mau mulai menyapa Allah dengan istighfâr kita, bersihkan hati kita dari semua sikap yang bisa menghalangi pertautan diri kita dengan-Nya: "keengganan dan kesombongan", sebagaimana sikap yang ditunjukkan Iblis ketika diminta oleh Allah untuk bersujud-hormat kepada Adam. Isilah diri kita dengan sikap yang bisa melekatkan diri kita kepada-Nya: "keikhlasan" untuk menerima perintah Allah, sebagaimana sikap orang-orang yang beriman ketika dipanggil oleh Allah untuk taat kepada-Nya, dengan satu jawaban: saminâ wa atha'nâ (kami dengar panggilan-Mu – ya Allah -- dan kami taat kepada-Mu)

Di ketika kita harus menghadapi realitas yang kurang bersahabat untuk melahirkan kesalehan di negeri kita tercinta ini, yang kita perlukan dalam menjaga kontinyuitas istighfar kita hanyalah: sikap "istiqâmah" (teguh pendirian), agar diri kita tidak mudah tergoda oleh setan dengan segala macam perangkat tipu-dayanya.

Penulis adalah: Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.

MENYELAMATKAN AL-QURAN YANG TERABAIKAN

MENYELAMATKAN AL-QURAN YANG TERABAIKAN

Pergumulan Iman Muslim Dalam Budaya Dungu

Oleh: Muhsin Hariyanto

Kedudukan al-Quran sebagai pedoman utama bagi umat Islam sudah menjadi kesepakatan. Sehingga menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengangkat al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Sunnah Nabi s.a.w.. Mengimani seluruh isi al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat al-Quran saja hukumnya haram. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal.

Iftitah

Pengakuan terhadap kebenaran al-Quran sebagai “hudan” (petunjuk) bagi umat Islam memang sudah tidak bisa dipungkiri, namun belum tentu setiap muslim bersedia mengimaninya. Padahal ketidakberimanan terhadap kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil. Sehingga Nabi Muhammad s.a.w. pun pernah mengeluhkan adanya orang Islam yang tidak mempedulikan al-Quran, bahkan keluhan Nabi s.a.w. itu langsung difirmankan oleh Allah SWT:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

"Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan." (Q.S. al-Furqân, 25: 30).

Keprihatinan Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi s.a.w. pernah berdoa untuk umatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi s.a.w. menangis?

Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

Amru bin ‘Ash bercerita bahwa Nabi s.aw. pernah membaca Firman Allah tentang pernyataan Nabi Ibrahim a.s.: “Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ibrahim, 14: 36), dan seterusnya. Dan berkata Isa a.s.: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Maidah, 5: 118). Lalu Nabi s.aw. pun mengangkat kedua tangannya dan bersabda: “Ya Allah, umatku umatku” dan beliau menangis. Maka Allah pun berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi s.a.w. dan menanyainya. Maka Malaikat pun memberitahukan pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhaimu dalam umatmu dan Aku tidak akan pernah membuatmu sedih.” (HR Muslim).

Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi s.aw., hingga betapa besar semangat Nabi s.a.w. agar kerabatnya yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib) selalu membantunya dalam dakwah Islam, Nabi s.a.w. pernah berdoa untuknya (Abu Thalib), namun Allah SWT menegurnya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. al-Qashash, 28: 56).

Kuatnya rasa kasih sayang Nabi s.a.w. itu ternyata masih dikalahkan oleh “kekerasan” hati kerabatnya sendiri (Abu Thalib). Demikian masih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang membuatnya sampai mengeluh kepada Allah SWT, lantaran mereka mengabaikan al-Quran. Mereka itu keterlaluan. Betapa tidak! Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad s.a.w. bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud, dalam keadaan wajahnya berdarah, beliau usap darah di wajahnya sambil berdoa untuk umatnya yang durhaka:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

[Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak mengetahui]. (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

Ketidakpedulian terhadap al-Quran, bukanlah kejahatan yang ringan. Mengaduhnya Nabi s.a.w. atas sikap kaumnya yang mengabaikan al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Namun, sikap kaum yang membelakangi al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi s.a.w. tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang mengabaikan al-Quran, dengan firmanNya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya." (QS al-Kahfi, 18: 57)

Ibnu Qayyim pun menyebut ada lima macam komunitas pengabai al-Quran:

  1. tidak bersedia mendengarkan dan mengimani al-Quran
  2. tidak bersedia mengamalkan al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.
  3. tidak bersedia menegakkan dan menggunakan aturannya.
  4. tidak bersedia mengkaji dan memahami maknanya.
  5. tidak bersedia berobat dan mengobati orang lain dengan al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl , 12/575).

Keluar dari Budaya Dungu

Setiap Muslim sadar bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia demi kebahagiaan mereka sendiri di dunia dan akharat. Mereka pun sadar bahwa Allah Maha Kasih Sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk sempurna dengan sikap dan sifat kasih sayang-Nya. Allah selalu "sudi" memberikan hidayah kepada mereka melalui al-Quran, meskipun di antara mereka masih banyak yang enggan untuk menerima hidayah-Nya. Pantaslah seandainya Nabi s.a.w. mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang mengabaikan al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum semacam itu sebagai “terlalu zalim” (asyaddu zhulman), yang dalam bahasa “gaul” bisa disebut: "disayang, namun tak tahu diri". Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap keengganannya untuk peduli terhadap al-Quran. Sikap semacam itu “keterlaluan”, hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup “tegas”:

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Katakanlah (kepada mereka): "Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS al-Hujurât, 49: 16).

Sikap mengabaikan al-Quran bisa dikikis dengan berbagai usaha. Di Desa-desa, masih banyak masjid, mushalla dan langgar yang setiap malamnya digunakan untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat umat Islam ternyata masih tetap tinggi. Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak berjajar kitab al-Qurannya, tekunkah kita membaca al-Quran dan beri’tikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar dengan al-Quran?

Pertanyaan penting untuk kita: “apakah kita sudah termasuk golongan orang-orang yang sudah benar-benar menjadi pendukung, bahkan pelopor dalam mengamalkan al-Quran. Dan seberapa usaha kita untuk memahami dan mengamalkan al-Quran? Masih memadaikah sikap kita terhadap al-Quran selama ini, yang sekadar membolak-balik lembaran al-Quran, tanpa bertanya lebih lanjut: sudahkah kita implementasikan nilai-nilai luhur al-Quran dalam kehidupan nyata kita?”

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan umat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang zalim yang menjadikan al-Quran sebagai “kumpulan firman Allah yang terabaikan”, dan benar-benar menjadi ‘Muta’allim wa ‘Âmil al-Qurân” (Pembelajar dan Pengamal al-Quran). Insyâallâh.

Senin, 29 Desember 2008

MEMAKNAI KEMBALI HIJRAH NABI MUHAMMAD S.A.W.

MEMAKNAI KEMBALI
HIJRAH NABI MUHAMMAD S.A.W.

Peristiwa hirjrah Nabi Muhammad s.a.w. memang sudah berlalu. Tetapi, pelajaran yang bisa kita peroleh dari peristiwa tersebut untuk masa sekarang dan yang akan datang sangat banyak. Di antaranya adalah semangat untuk berpindah, keinginan kuat dan keberanian untuk "berubah" dari ketidakberdayaan menuju keberdayaan dengan semangat pemberdayaan, untuk diri sendiri dan seluruh umat manusia, terutama untuk umat Islam yang kini masih terlena dalam problem kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan dekadensi moral (baca: keterpurukan akhlaq).


Belajar Dari Ayat-ayat Allah

Allah berfirman:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisâ' 4: 100)

“Dan orang-orang yang berhijrah Karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS an-Nahl, 16: 41)
Kedua ayat di atas mengisyaratkan bahwa Allah SWT berjanji terhadap semua orang yag mau berhijrah di jalan Allah, bahwa mereka pasti akan mendapatkan keberuntungan. Apa wujud keberuntungan itua? Wujudnya – menurut janji Allah – adalah: "Sesuatu yang lebih baik dari apa pernah diperoleh", di dunia dan akhirat.
Fenomena Hijrah Nabi s.a.w.
Suatu malam sekitar tahun 622 Masehi. Sekelompok pemuda mengepung sebuah rumah. Golok terhunus berada di genggaman masing-masing. Tekad mereka bulat. Mereka akan menghabisi lelaki berusia lebih setengah abad itu. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kompromi. Menurut mereka – para pengepung itu -- "dosa" lelaki itu sudah sangat jelas, yakni "membongkar kemapanan kehidupan setempat".
Lelaki itu menggelindingkan perubahan. Ia mengingatkan masyarakatnya untuk tidak mengagungkan semua yang tidak layak diagungkan. Ia mengajak untuk hanya mengagungkan satu-satunya yang layak diagungkan. Lelaki itu menggulirkan transformasi sosial yang mengguncang kemapanan masyarakatnya. Karena itu, ia dipandang pantas untuk mati.
Mereka boleh berencana. Yang di Atas, Yang Maha Perencana, punya rencana lain. Sang lelaki itu berhasil menyelinap dari rumahnya. Dua hari ia berlindung di celah batu sebuah bukit, sebelum kemudian tersaruk mengendarai unta melintasi gurun menuju kehidupan baru. Dalam perjalanan itu, kematian terus membayang-bayanginya. Masyarakatnya, juga alam gurun, selalu siap mengeksekusinya. Tapi, ia sangat yakin bahwa langkahnya "benar". Lelaki itu terus melangkah. Ia telah membayar mahal sikapnya dengan mengorbankan kemapanannya. Ia tidak mau berhenti hingga menginjak tanah baru tempat keyakinannya dapat disemaikan.
Di rumah anak yatim, di tanah baru, unta pembawa lelaki itu berhenti. Di rumah itulah ia kemudian tinggal. Di situlah ia tunjukkan perangainya yang luar biasa. Ia menyantuni para (anak) yatim dan kaum fakir-miskin. Ia ajak para sahabatnya untuk menengok para janda tanpa keluarga. Ia selalu berbicara santun pada sang isteri. Ia maafkan para musuh yang telah menginginkan kematiannya. Ia ingatkan bahwa semua manusia adalah sama. Tidak ada yang berbeda. Satu-satunya perbedaan hanyalah di hadapan Sang Pencipta, yakni perbedaan dalam takwa. Ia ajak manusia menjadi manusia sempurna: manusia yang tak terjajah oleh apa pun lantaran hanya mengagungkan Allah. Dengan itulah lelaki tersebut membawa dunia pada peradaban baru.
Siapa pun yang sungguh mencermati perjalanan lelaki itu akan mengakui betapa dahsyat langkah yang telah ditempuhnya. Yang dilakukannya selalu langkah sederhana. Namun, langkah-langkah sederhana itulah yang mengubah peradaban dunia. Langkah-langkah sederhana itulah yang membalik "hari gelap" menjadi "hari terang-benderang". Momentum pembalikan itu adalah hari-hari saat ia lolos dari kepungan para penjagal untuk menaklukkan keganasan gurun. Momentum itulah 'Hijrah' yang oleh Umar -- sahabat lelaki itu -- dipilih sebagai titik nol penanggalan umat.
Sejak itu, dari tahun ke tahun, kita selalu dilewatkan pada momentum penting Hijriyah. Dari tahun ke tahun kita bertemu dengan Tahun Baru Hijriyah. Persoalannya: apakah kita memanfaatkan momentum itu buat menghijrahkan diri dari gelap kemapanan menuju kehidupan yang lebih terang-benderang? Ataukah kita hanya akan melewatinya sebagaimana melewati hari-hari lainnya.
Gelap tak pernah lelah membayangi kita. Gelap selalu menawarkan 'kenyamanan' untuk mapan di dalamnya. Itulah comfort-zone yang akan terus menjebak kita. Gelap membuat kita lebih suka menyalahkan lingkungan dan menolak berhijrah buat menyikapi keadaan kita sendiri. Kita acapkali merasa diri paling sengsara, sedangkan tubuh kita belum pernah berbekas daun kurma yang menjadi alas tidur, perut kita belum pernah harus diganjal batu untuk menahan lapar seperti lelaki itu. Kita gampang marah saat direndahkan orang lain, padahal kita tak pernah ditimpuki cemooh, batu, maupun kotoran binatang seperti lelaki itu.
Mungkin kita malah bersenang-senang dalam gelimang kekayaan hasil korupsi dalam berbagai bentuk dan derivasinya, sedangkan lelaki dari keluarga terhormat dan sempat kaya raya itu harus menikmati rumput-rumput kering akibat pemboikotan ekonomi selama tiga tahun lantaran keyakinannya. Toh, pada akhirnya sang lelaki itulah yang menjadi sang pemenang. Lelaki itulah yang menjadi manusia yang paling mulia. Lelaki itulah Rasulullah SAW.
Di hari baru, tidakkah kita berniat untuk mengisi comfort-zone kemapanan sendiri buat menjalani hari-hari yang lebih menantang seperti telah dilakoni Sang Nabi. Tidakkah kita berani berkata dengan doa yang kita panjatkan ke hadirat-Nya: "Hijrahkan kami ya Allah, sebagaimana Engkau telah menghijrahkan manusia terkasih-Mu itu agar kami meraih kehidupan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang terang-benderang."
Kini umat manusia memerlukan sejumlah pioneer dan pahlawan yang memiliki kemauan kuat dan keberanian untuk berhijrah diri dan menghijrahkan umat manusia dari keterpurukan menuju ketercerahan dalam wujud apa pun, Ketercerahan intelektual, ketercerahan spiritual dan tentu saja ketercerahan peradaban untuk menjadi modal dalam perjalanan hidup umat manusia menuju 'shirâthal mustaqím', jalan lempang yang hanya dapat dilalui oleh orang yang telah menghijrahkan dan terhijrahkan dirinya ke dalam petunjuk Sang Pencipta, Allah Rabbul 'Âlamín.
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk bergerak menuju ke arah jalan yang ditunjuki oleh-Nya, dan menjadikan diri menjadi bagian dari al-Muhtadín (sekelompok orang yang benar-benar mendapat hidayah dari-Nya).
Âmín.